Terapi wicara adalah salah satu layanan dari PKTKAR Ramaniya untuk membantu kelancaran anak-anak dalam berkomunikasi. Terapi Wicara meliputi kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama / kelancaran, sehingga anak mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar.

Ketika anak berusia dua tahun ke atas, pada umumnya mereka sudah bisa melafalkan dan merangkai kata. Jika anak anda belum bisa bicara di usia tersebut, tidak ada salahnya jika orang tua berkonsultasi dengan psikolog atau terapis wicara.

Berdasarkan hasil peneltian, terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan bicara, diantaranya :

  1. PERKEMBANGAN OTOT YANG LAMBAN

Ketika anak mengalami keterlambatan perkembangan otot sangat sulit/berat bagi anak untuk melakukan gerakan cepat yang dibutuhkan untuk berbicara dan produksi suara. Mereka mengalami kelemahan otot-otot tubuh (trunk) termasuk otot leher (neck muscle) konsekuensinya anak tidak mampu / sulit memproduksi suara dan otot sulit bergerak dengan cepat untuk berbicara (firing saraf untuk menggerakan otot-otot leher, lidah dan mulut lambat). Biasanya kami akan memberikan treatment sensorimotor atau Sensori Integration (SI) untuk membantu menguatkan otot-otot tubuh secara keseluruhan sehingga otot-otot menjadi kuat, rongga dada kuat sehingga produksi suara akan meningkat. Dalam hal ini produksi suara bukan masalah mulut dan tenggorokan saja tapi harus melalui mekanisme yang sangat kompleks.

  1. ANAK JARANG BERINTERAKSI DENGAN ORANG LAIN

Beberapa anak kurang banyak bergaul dengan orang lain disekelilingnya, sehingga waktu untuk berinteraksi berkurang . Hal ini menyebabkan anak tidak bisa mempraktekkan keterampilan bicaranya dengan orang lain. Biasanya anak-anak ini lebih banyak tinggal dirumah dan tidak diijinkan untuk bermain. Sementara orang-orang yang tinggal di rumah banyak disibukkan dengan aktivitasnya sendiri seperti chatting, main game, nonton TV, dll sehingga anak kurang mendapatkan perhatian.

  1. BAHASA NON VERBAL BERKEMBANG DULUAN

Pada keluarga tertentu anak cukup terbiasa dengan menggunakan gesture / isyarat untuk mengungkapkan keinginannya. Misalnya anak mau minum susu, cukup dengan menarik tangan orang tuanya ke dapur dan menunjuk susu. Hal ini menyebabkan anak tidak terbiasa untuk mengungkapkan pemikiran atau keinginannya dengan menggunakan kata-kata.

  1. HARAPAN/ EKSPEKTASI DARI KELUARGA ATAU YANG LAIN RENDAH

Banyak orang di sekeliling anak tidak berbicara dengan anak karena mereka tidak mengharapkan anak untuk bicara pada mereka atau pembicaraannya harus dimengerti oleh anak.  Akhirnya…anak juga tidak banyak bicara.

  1. TIDAK BANYAK WAKTU UNTUK BICARA

Kemampuan anak untuk merespon apa yang dikatakan orang lain tidak sama,  ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Ketika orang tua atau pengasuh tidak sabar, membuat anak menjadi males untuk berbicara dan bersikap pasif.

  1. STIMULASI YANG BERLEBIHAN /OVERSTIMULATION

Sering kali orang tua menginginkan anak menjadi orang yang cerdas dalam berbahasa. Tidak jarang orang tua menggunakan beberapa bahasa sekaligus seperti bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Mandarin dan bahasa daerah dengan maksud untuk mengasah keterampilan bicaranya. Namun anak menjadi bingung bahasa mana yang harus diikuti, sehingga akhirnya tidak banyak bicara.

Pakailah satu bahasa yang konsisten di rumah mulai dari kecil. Pakailah bahasa dimana ia tinggal,  jika tinggal di Indonesia maka pakailah Bahasa Indonesia karena ia akan berkomunikasi dengan orang lain di lingkungannya menggunakan Bahasa Indonesia. Untuk anak yang normal, kurang lebih usia 7 tahun maka ia dapat dilatih menggunakan bahasa asing.

  1. ANAK TIDAK CUKUP WAKTU BERBICARA DENGAN BAHASA YANG KOMUNIKATIF.

Ajaklah ananda untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sehari-hari mengenai berbagai hal. Untuk menambah kekayaan kosa katanya, bisa juga dengan menggunakan gambar seperti binatang, buah-buahan, benda-benda sehari-hari, dll.

8.TERLALU BANYAK BAHASA DEMONSTRASI PERILAKU (PERFORMANCE LANGUAGE) TIDAK BANYAK MEMAKAI BAHASA SOSIAL; NOT ENOUGH SOCIAL TALK

Ada beberapa anak yang menggunakan bahasa untuk menampilkan perilaku tanpa berbicara sehingga anak kurang praktek berbicara untuk menjalin persahabatan. Amatilah anak ketika bermain, bagaimana  ia berperilaku, berbicara, berinteraksi, dll

  1. ANAK BERMAIN SENDIRI

Anak tidak diajak berinteraksi dan dibiarkan untuk bermain sendiri seperti nonton tv, bermain games, main mainannya sendirian.

Di PKTKAR Ramaniya, program terapi wicara dibuat sesuai dengan kebutuhan anak. Layanan diberikan oleh terapis Wicara yang cukup berpengalaman dibidangnya.

Terapi dapat dihentikan jika kemampuan bicara anak sudah setara dengan teman-teman seusianya.

 

Editor : Susilawati Abdullah, S.Psi, Psikolog

 

 

 

WhatsApp us